News

Mielopati Servikal akibat Kista Endoderm...

Mielopati Servikal akibat Kista Endodermal Tulang Belakang pada Anak Usia Dua Tahun: Sebuah Laporan Kasus

 

Mielopati servikal merupakan suatu kondisi medis yang diakibatkan oleh penekanan tulang belakang leher yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan seperti gangguan fungsi motorik halus, kelemahan dan kesemutan pada anggota gerak tubuh, nyeri dan berkurangnya ruang gerak pada tulang belakang leher, nyeri pada lengan dan bahu, ketidakseimbangan serta gangguan gaya berjalan. Mielopati servikal umum dijumpai pada populasi lansia, mayoritas diakibatkan proses degenerative. Namun pada kasus yang jarang, kondisi ini dapat pula ditemui pada populasi anak-anak. Mielopati servikal pada anak dapat disebabkan oleh adanya tumor atau kista pada tulang belakang leher, salah satunya adalah kista endodermal dengan prevalensi sebesar 0,7 hingga 1,3%. Pada laporan kasus ini, ditemukan adanya pasien anak usia dua tahun dengan mielopati servikal akibat kista endodermal di Rumah Sakit Umum Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Pada pasien dilaporkan keluhan kesulitan menggerakkan leher serta postur tubuh dan gaya berjalan yang tidak normal sejak enam bulan oleh orangtua pasien. Adanya riwayat trauma dan penyakit lainnya pada pasien juga disangkal. Dari pemeriksaan fisik oleh dokter, tidak ditemukan adanya kelainan maupun tanda-tanda adanya riwayat trauma seperti bengkak atau kemerahan. Namun pada pasien ditemukan sisi tubuh kanan pasien lebih lemah dibanding sisi kiri serta adanya refleks patologis pada kedua sisi tubuh. Dari hasil pemeriksaan penunjang menggunakan MRI ditemukan adanya suatu gambaran mengarah ke mielopati servikal akibat tumor pada tulang belakang leher. Pada pasien kemudian dilakukan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan tumor dari tulang belakang leher serta tindakan dekompresi dan laminektomi yang bertujuan untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang leher. Setelah dilakukan pemeriksaan pada jaringan yang dicurigai tumor tersebut teridentifikasi jaringan tersebut sebagai kista endodermal.

Mielopati servikal akibat kista endodermal pada anak merupakan kasus yang jarang ditemukan. Sekali diagnosis ditegakkan, tindakan pembedahan harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sumsum tulang belakang. Kista endodermal biasanya memiliki sifat jinak dan tidak ganas. Namun keberhasilan tindakan pembedahan sangat bergantung dengan lokasi kista dan derajat keparahan kompresi yang ditimbulkan. Beberapa studi menyebutkan tingkat kesembuha pasca operasi adalah sebesar 40 hingga 70% kasus dan hilangnya gejala secara total disebutkan sebesar 20-30% kasus. Oyemolade dkk melaporkan bahwa tingkat kekambuhan kista endodermal adalah sebesar 37% dengan interval waktu antara operasi dan terjadi kekambuhan antara 4 hingga 14 tahun.

Poin penting yang dapat diambil dari kasus ini adalah peran orang tua sangat dibutuhkan dalam deteksi dini kelainan tubuh pada anak. Anak-anak seringkali belum bisa mengekspresikan rasa sakit atau adanya abnormalitas pada tubuh mereka. Dengan adanya deteksi dini oleh orangtua, dari segi pertumbuhan fisik dan perkembangan anak dapat diketahui adanya abnormalitas lebih awal sehingga tindakan dapat segera diambil oleh dokter dan hasil perbaikan klinis atau tingkat kesembuhan yang maksimal dapat dicapai. Hal penting lainnya adalah, monitoring kondisi pasien pasca operasi penting dilakukan untuk mengevaluasi adanya kegagalan operasi maupun penurunan fungsi saraf jangka panjang.



Kondisi pasien sebelum (kiri) dan sesudah tindakan pembedahan kanan)

Lokasi: RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar




Tindakan pembedahan evakuasi kista dan tindakan dekompresi (A&B), jaringan kista yang berhasil dievakuasi (C)

Lokasi: RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar


  Sep 16, 2021

See More

Reduksi Terbuka Pada Dislokasi Posterior...

Eduksi Terbuka Pada Dislokasi Posterior Siku

 Yang Terbengkalai Pada Anak 


ABSTRAK

Latar Belakang: Dislokasi siku yang terbengkalai didefenisikan sebagai dislokasi yang tidak dilakukan tindakan/reduksi kembali, lebih dari 3 minggu. Reduksi akan semakin sulit pada dislokasi siku yang terbengkalai, disebabkan adanya perlengketan dari jaringan lunak di sekitar siku. Dislokasi siku yang sudah terlalu lama akan mempunyai keterbatasan gerak, biasanya di antara 0o-50o terutama saat fleksi (melipat siku), pasien sulit untuk menggunakan sikunya dalam kehidupan sehari-hari seperti menyisir rambut, mengancingkan baju, makan ataupun menulis.

Artikel ini di buat dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil dari tindakan reduksi terbuka dan fiksasi sementara menggunakan k-wire dalam terapi dislokasi siku yang terbengkalai pada anak.


Laporan Kasus: Kami melaporkan 3 kasus anak-anak dengan dislokasi siku yang terbengkalai yang telah menjalani terapi reduksi terbuka dan fiksasi sementara menggunakan k-wire di RSUP Haji Adam Malik dari Januari 2017 – Januari 2019. Rata-rata awal dari fleksi siku adalah 20° dan MEPI 73.3. Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara dilakukan pada semua pasien. MEPI pada ketiga pasien tersebut dinilai 6 bulan kemudian.


Kesimpulan: Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk dislokasi siku yang terbengkalai pada pasien anak-anak memiliki hasil yang meyakinkan dan memuaskan terlepas dari durasi dislokasi dan rentang gerak pra-operasi, asalkan diikuti dengan protokol fisioterapi yang diawasi. Rehabilitasi dilakukan secara rutin segera setelah K-wire dilepas dan dipertahankan selama 6 minggu.

 

Kata kunci: Dislokasi siku terbengkalai; anak-anak; reduksi terbuka; k-wire



LATAR BELAKANG

Dislokasi siku yang terbengkalai didefinisikan sebagai dislokasi yang tidak direduksi selama lebih dari 3 minggu.1 Dislokasi siku posterior akut pada anak umumnya mudah diobati. Namun, reduksi sulit dilakukan terutama karena kontraktur jaringan lunak pada dislokasi siku lama yang tidak tereduksi atau terabaikan. Selain itu, jaringan parut yang terbentuk dan pembentukan tulang baru kemudian dapat mencegah reduksi tertutup. Tergantung pada keadaan, ahli bedah memiliki berbagai pilihan prosedur operasi untuk dipilih, tetapi tidak ada yang sepenuhnya memuaskan. Pilihan ini termasuk reduksi terbuka, artroplasti eksisi, artroplasti interposisi atau penggantian, dan artrodesis.2


Menurut beberapa penulis, manfaat reduksi terbuka hanya terbatas pada dislokasi dengan onset kurang dari tiga bulan, sedangkan menurut beberapa penulis3,4 reduksi terbuka memberikan hasil yang baik pada dislokasi bahkan dalam jangka waktu dua tahun. Dislokasi siku yang terbengkalai membatasi rentang gerak (ROM) terutama fleksi hingga hampir 0-50°; dimana pasien tidak dapat memfungsikan tangan mereka untuk kegiatan sehari-hari yang sederhana (sisir, tombol, makan) atau motorik halus (menulis).5,6,7


Mayo Elbow Performance Index (MEPI)(Tabel 1) digunakan untuk mengevaluasi karakteristik subjektif, objektif, dan fungsional sebelum operasi dan tindak lanjut. Sistem penilaian ini memiliki empat parameter: nyeri, gerak, stabilitas, dan kinerja dari lima aktivitas sehari-hari (sisir, makan, kebersihan diri, memakai baju, dan sepatu). Stabilitas siku dinilai stabil (tidak ada ketidakstabilan valgus / varus yang terlihat), instabilitas sedang (<10° ketidakstabilan valgus / varus), atau instabilitas berat ( ³ 10° ketidakstabilan valgus / varus). Bergantung pada skor, MEPI diklasifikasikan sebagai sangat baik (90-100), baik (75-89), cukup (60-74), dan buruk (<60).

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk menangani dislokasi siku yang terbengkalai pada anak-anak.



Fungsi

Nilai

Definisi (Nilai)

Nyeri

45

Tidak ada (45)

Ringan (30)

Sedang (15)

Berat (0)

Gerak

20

Lingkup > 100o (20)

Lingkup 50o-100o (15)

Lingkup < 50o (5)

Stabilitas

10

Stabil (10)

Instabilitas sedang (5)

Instabilitas berat (0)

Fungsi

25

Menyisir rambut (5)

Makan (5)

Kebersihan diri (5)

Memakai baju (5)

Memakai sepatu (5)

Total

100

Sangat baik > 90; Baik : 75-89; cukup : 60-74; Buruk < 60



LAPORAN KASUS

Kami melaporkan 3 kasus dislokasi siku terbengkalai pada anak-anak yang menjalani reduksi terbuka dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik selama periode Januari 2017-Januari 2019. Usia pasien adalah 9, 13, dan 14 tahun. Mekanisme cidera pada semua kasus yaitu jatuh dengan tangan yang menumpu. Indikasi tindakan pembedahan adalah nyeri dan kaku sendi siku saat ekstensi. Rata-rata fleksi siku awal adalah 25,3° (10°, 26°, 40°). Rata-rata nilai MEPI adalah 73,3 (80, 65, 75).


Deformitas bukanlah masalah utama, namun nyeri saat memulai gerakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari menjadi alasan pasien untuk mencari pertolongan medis. Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara dilakukan pada semua pasien. Cast digunakan untuk memberikan stabilitas lebih lanjut.

Rehabilitasi pun rutin dilakukan segera setelah K-wire dilepas dan luka sembuh. Fisioterapi yang diawasi dilakukan dan dipertahankan selama 6 minggu. Tidak ada pasien yang mengalami infeksi pasca-operasi. Tidak ada pasien yang mengalami cidera saraf setelah operasi.




MEPI untuk ketiga pasien dievaluasi setelah 6 bulan. Semua pasien merasa puas karena dapat melakukan rentang gerak fungsional untuk aktivitas sehari-hari (rata-rata MEPI 93,3; sangat baik) (Tabel 2) meskipun deformitas pasien tidak terkoreksi dengan sempurna.




Gambar 1. A. Tampilan klinis pasien ke- 1 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-1; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-1




Gambar 2. A. Tampilan klinis pasien ke- 2 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-2; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-2




Gambar 2. A. Tampilan klinis pasien ke- 3 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-3; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-3






Tabel 2. MEPI pada pasien 1 tahun setelah operasi

 

Fungsi

Nilai MEPI 

Pasien 1

Nyeri (45)

Gerak (20)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

95

Pasien 2

Nyeri (45)

Gerak (20)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

95

Pasien 3

Nyeri (45)

Gerak (15)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

90





PEMBAHASAN

Dislokasi siku terbengkalai umumnya jarang terjadi tetapi masih sering ditemukan di negara berkembang.9 Kebanyakan penulis menyetujui konsensus pengobatan dan merekomendasikan reduksi tertutup untuk dislokasi siku hingga 3 minggu setelah cidera. Setelah lewat dari waktu tersebut, reduksi tertutup dapat menimbulkan bahaya. Kebanyakan penulis menyarankan reduksi terbuka bila dislokasi berlangsung 3 minggu hingga 3 bulan. Penggantian siku total, artroplasti eksisi, dan artrodesis direkomendasikan setelahnya.10 Arthrodesis direkomendasikan untuk pekerja berat, sementara rentang gerak yang baik didapatkan pada kasus yang dilakukan artroplasti. Reduksi terbuka tidak disarankan setelah 3 bulan dislokasi karena takut akan kerusakan tulang rawan. Namun dalam penelitian kami, kami mendapatkan hasil yang memuaskan dengan operasi hingga 6 bulan. Temuan ini konsisten dengan penelitian lain, yang mendapatkan hasil serupa dengan reduksi terbuka hingga 2 tahun.11






Gambar 4. A. Klinis pasien 1,2,3 melakukan flexy dan ekstensi post Operasi 6 Bulan follow up ; B. X-Ray siku AP & Lateral pasien 1,2,3 pada 6 bulan followup


Beberapa penulis merekomendasikan reduksi terbuka dengan hinged external fixation untuk memfasilitasi rehabilitasi awal dan stabilitas yang baik.12,13 Namun dalam penelitian kami, reduksi terbuka dengan fiksasi internal menggunakan K-wires sementara, dikombinasikan dengan protokol rehabilitasi pasca operasi yang diawasi telah mencapai hasil yang sama baiknya. Kami melepas jahitan pada hari ke-14 dan K-wires 2 minggu setelah operasi. Fisioterapi yang diawasi dilakukan segera setelah K-wire dilepas dan lukanya sembuh dan dipertahankan selama 6 minggu.


KESIMPULAN

Reduksi terbuka dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk dislokasi siku terbengkalai pada pasien anak-anak memiliki hasil yang meyakinkan dan memuaskan terlepas dari durasi dislokasi dan rentang gerak pra-operasi, asalkan diikuti dengan protokol fisioterapi yang diawasi.


Penulis

Budi A. M. Siregar*, Iman Dwi Winanto**

*Residen Orthopaedi and Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan

**Konsultan Orthopaedic and Traumatology, Divisi Pediatri, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan


Medan, 03 Mei 2021


  Sep 01, 2021

See More

Parameter Antropometrik untuk Memprediks...

Parameter Antropometrik untuk Memprediksi Ukuran Hamstring Graft pada Operasi Rekonstruksi Ligamen Krusiatum Anterior

 

 

Meningkatnya jumlah dan jenis kegiatan olahraga disertai juga dengan meningkatnya cedera pada ligamen. Cedera akut pada ligamen meliputi sprain serta robekan, baik sebagian maupun total. Sekitar 30-50% dari cedera ligamen terjadi saat kegiatan olahraga. Cedera ligamen paling sering terjadi di daerah lutut, dan ligamen yang paling sering terdampak adalah ligamen krusiatum anterior atau ACL.

Operasi rekonstruksi saat ini menjadi pilihan utama pada kasus ruptur ligamen krusiatum anterior. Di Amerika Serikat tindakan ini dilakukan sekitar 60.000 hingga 175.000 kali tiap tahunnya. Terdapat beberapa pilihan autologous graft pada operasi rekonstruksi ligamen krusiatum anterior ini, antara lain tendon patella, tendon kuadriseps, tendon hamstring, dan tendon peroneus. Namun dari beberapa pilihan ini, tendon hamstring merupakan yang paling sering digunakan karena tingkat morbiditas pada donor site yang rendah, masalah yang timbul pada sendi patellofemoral minimal, dan gangguan yang timbul pada mekanisme ekstensi sendi lutut juga lebih rendah. Salah satu kerugian dari penggunaan graft dari tendon hamstring adalah ukuran graft yang diperoleh bervariasi dan tidak dapat diprediksi sebelum operasi. Hal ini berbeda dengan graft dari tendon patella yang ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Terdapat beberapa parameter antropometrik yang kami perkirakan dapat dipergunakan untuk memprediksi ukuran graft dari tendon hamstring, yaitu tinggi badan, berat badan, dan body mass index. Kemampuan untuk memprediksi ukuran graft ini penting bagi seorang ahli bedah karena dapat menjadi panduan untuk membuat rencana pre-operatif yang lebih baik dan dapat mengurangi kebutuhan penggunaan allograft.

Dalam penelitian ini, kami melakukan observasi terhadap 20 pasien yang menjalani operasi rekonstruksi ligamen krusiatum anterior menggunakan graft dari tendon hamstring pada bulan Mei 2019 hingga Januari 2020 di RS dr. Saiful Anwar Malang. Kami lakukan pengambilan data antropometrik pasien yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan body mass index. Diameter graft diukur intra-operatif menggunakan seizing tube (Linvatec) dengan kalibrasi 0,5 mm. Dari data-data yang diperoleh dilakukan analisis statistik menggunakan tes korelasi multivarian untuk mengetahui hubungan antara data antropometrik dengan diameter graft. Hasil analisis statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa didapatkan hubungan yang signifikan antara tinggi badan dengan diameter graft hamstring, sedangkan berat badan dan body mass index tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.

Dari hasil penelitian ini kami menyarankan untuk penggunaan tinggi badan untuk memprediksi diameter graft dari tendon hamstring. Hal ini dapat digunakan sebagai panduan dalam membuat rencana pre-operatif, mengurangi kebutuhan penggunaan allograft, mengurangi biaya operasi, serta meningkatkan kualitas hasil rekonstruksi ligamen krusiatum anterior.


dr. Anindita Eka Pramana Wijaya

dr. Krisna Yuarno Phatama, Sp.OT (K)

Malang, 30 April 2021

 

Foto 1

Judul : Tendon hamstring

Lokasi foto : Kamar operasi RS dr. Saiful Anwar Malang

Fotografer : Alifian

Keterangan : Tendon hamstring setelah dibersihkan dari lemak dan otot yang melekat.



Foto 2

Judul : Pengukuran diameter tendon hamstring

Lokasi foto : Kamar operasi RS dr. Saiful Anwar Malang

Fotografer : Alifian

Keterangan : Pengukuran diameter tendon hamstring menggunakan seizing tube (Linvatec) dengan kalibrasi 0,5 mm.

  Aug 31, 2021

See More

Susu untuk pertumbuhan, is it overrated?

Susu untuk pertumbuhan, is it overrated?

Reyner Valiant Tumbelaka, dr. M.KedKlin.,Sp.OT.

 

Susu, produk yang dikenal sejak zaman purbakala dan terus dikonsumsi hingga saat ini. Diyakini memiliki manfaat segudang, (terlalu) banyak yang beranggapan bahwa mengkonsumsi susu banyak-banyak dapat membuat seorang anak bisa tumbuh menjadi tinggi besar. Pada akhirnya yang kita lihat ada di antara dua, tumbuh ke atas, atau tumbuh ke samping. Atau bisa jadi keduanya.

Dulu negara kita pernah mengenal istilah “4 sehat 5 sempurna”, dan poin ke lima yang menyempurnakan adalah susu. Tentunya ada alasan kuat mengapa istilah ini diganti menjadi “Gizi seimbang”, salah satunya karena konsep ilmu dan permasalahan gizi terkini sudah jauh berubah.

Komersialisasi susu serta produk yang berhubungan seringkali berlebihan. Saya sendiri masih ingat jelas sebuah iklan susu beberapa tahun lalu yang menampilkan adegan seorang anak minum susu segelas dan tak sampai matahari terbenam di tayangan iklan itu tubuhnya langsung menjadi jauh lebih tinggi dan jago di lapangan basket, seolah menunjukkan susu adalah jawaban instan segala doa untuk pertumbuhan (dan bahkan kemampuan olahraga).

Susu dan nutrisi untuk pertumbuhan.

Susu mengandung makronutrien dan mikronutrien yang baik untuk tubuh, di dalam satu gelas susu(plain) (220 ml), terdapat sekitar 122 kalori, 4,8 gram lemak, 115 mg sodium, 12 gram karbohidrat, 12 gram gula, 8 gram protein, dan 293 kalsium. Selain itu, susu juga mengandung beragam vitamin dan mineral lainnya yang baik untuk tubuh.

Kandungan spesifik yang berfungsi untuk pertumbuhan antara lain: Protein, Vitamin B, Vitamin D, Fosfor, Kalsium, IGF-1

Kandungan spesifik inilah yang banyak bermanfaat untuk pertumbuhan, dan tentu saja kandungan di atas tidak hanya ditemukan di dalam susu, namun dari produk pangan dan minuman lainnya, tapi tentu saja susu adalah pilihan yang ringkas serta praktis untuk pemenuhan nutrisi-nutrisi penting di atas. 

Menurut kementerian kesehatan Indonesia, dalam 100 gram susu sapi cair dalam kemasan memiliki kandungan lemak 3.5 gram dan kolesterol 11 mg, dan dalam 100 gram susu bubuk full cream memiliki kandungan lemak 30 gram dan kolesterol 85 mg. Batas konsumsi lemak sendiri perhari dari sumber yang sama adalah di angka 67 gram lemak per hari. Kandungan gula dan lemak yang ada, jika diberikan berlebihan akan mengganggu kesehatan, baik yang tampak dari jauh (obesitas) maupun dari dekat (jerawat)

 

 

Susu di usia pertumbuhan

Susu adalah produk pertama yang dikonsumsi manusia, dan diteruskan secara eksklusif hingga berusia 6 bulan. Tentu saja yang dimaksud adalah air susu ibu, bukan ibu sapi. Namun pada hal tertentu dengan sangat terpaksa ASI diganti dengan susu formula. Hal ini membuktikan peran susu sangatlah substansial bahkan sejak kita dilahirkan.

Dilihat dari masa pertumbuhan, wanita akan mencapai puncak pertumbuhan tingginya dua tahun setelah dimulainya masa pubertas. Ini terjadi sekitar usia 14-16 tahun. Berbeda dengan wanita, pria umumnya terlihat lebih tinggi ketika masa anak-anak. Namun, ketika memasuki masa remaja, wanita terlihat lebih tinggi dan besar dibanding pria. Ini karena wanita lebih cepat mengalami pubertas. Laki-laki biasanya memasuki masa pubertas pada usia 11-14 tahun. Ketika pertumbuhan tinggi wanita mulai melambat, pria justru sedang pesat. Pada usia 16-19 tahun, laki-laki akan mencapai puncak pertumbuhan tingginya. Hal yang sangat tidak biasa terjadi apabila seseorang masih bertambah tinggi setelah umur 19 tahun.

WHO sendiri membuat grafik pertumbuhan hingga menyentuh usia 19 tahun. Dalam rentang usia inilah nutrisi yang terkandung dalam susu spesifik untuk pertumbuhan memiliki peran yang sangat penting.

Pertumbuhan manusia

Selain nutrisi, hal-hal yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan antara lain:

  • Adanya Lempeng Epifisis

Pertumbuhan tinggi tubuh manusia dipengaruhi oleh lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. suatu area khusus pada tulang rawan yang berada di ujung tulang panjang manusia. Pertumbuhan tinggi dan panjang akan terus bertambah pada tulang apabila lempeng pertumbuhan tersebut masih aktif atau terbuka.

Di akhir masa pubertas pada pria dan wanita, lempeng pertumbuhan ini akan menutup sehingga pertumbuhan tinggi tidak lagi akan bertambah. Itu sebabnya, keutuhan lempeng pertumbuhan sangatlah penting. Adanya kerusakan pada lempeng pertumbuhan juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan pada satu area tertentu.

Kondisi Genetik

Faktor terbesar yang mempengaruhi pertumbuhan. Jadi, harus memperhatikan anggota keluarga. Kalau salah satu silsilah ada yang bertubuh tinggi, ada harapan anda bisa mencapai tinggi tertentu. Namun, jika satu silsilah keluarga bertubuh pendek, tak perlu kecewa, berita baiknya adalah anda tetap terlihat seragam dengan anggota keluarga yang lain.

  • Jenis Kelamin

Hal yang sangat jelas namun penting untuk disampaikan agar tidak ada harapan yang sia-sia. Wanita cenderung memiliki postur lebih kecil dari pria.

  • Aktivitas Fisik

Selain itu, aktivitas fisik juga berpengaruh pada pertumbuhan dalam masa kanak-kanak sampai pubertas. Saat aktif bergerak, pelepasan hormon pertumbuhan juga akan semakin banyak. Ketika hormon pertumbuhan ini dilepaskan, lempeng pertumbuhan masih terbuka. Itu sebabnya pertumbuhan tinggi pun akan lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang tidak aktif secara fisik.

Dari hal-hal yang telah disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa susu memiliki manfaat yang besar untuk pertumbuhan, namun tak perlu dibesar-besarkan. Banyak faktor lain yang berpengaruh, susu hanyalah sebagian di antaranya. Selamat minum susu!

  Aug 25, 2021

See More

Panduan Pelayanan Orthopaedi dan Traumat...

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya, “Panduan Pelayanan Orthopaedi & Traumatologi Berkaitan Dengan COVID-19 Versi Kedua” ini telah selesai kami susun.


Seperti diketahui pada awal tahun 2020, WHO telah resmi menetapkan pandemik Coronavirus Disease (COVID-19) yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2).


Penularan COVID-19 sudah menyebar secara global sejak tahun 2020 sampai dengan saat ini termasuk wilayah di Indonesia dengan potensi tingkat penularan yang tinggi. PABOI telah menerbitkan Edisi Pertama Panduan Pelayanan Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia Berkaitan Dengan Covid-9 pada Maret 2020. Perkembangan varian virus covi-19 sangat significant sampai dengan saat ini. Menyikapi hal tersebut PABOI berkewajiban untuk memberikan panduan pelayanan orthopaedi dan traumatologi bagi semua anggotanya dalam tujuan untuk mengurangi resiko penyebaran COVID- 19 dengan tetap memperhatikan prosedur keamanan bagi petugas medis dan pasien sesuai dengan perkembangan varian virus Covid-19. Panduan “Pelayanan Orthopaedi & Traumatologi Berkaitan Dengan COVID-19” ini memuat beberapa panduan mengenai :


a. Panduan Seleksi Kasus Pasien Orthopaedi & Traumatologi

b. Panduan Penyaringan (Screening) Pasien

c. Panduan Alat Perlindungan Diri (APD)

d. Panduan Operasi Elektif & Operasi Gawat Darurat

e. Panduan Pencegahan Penularan Covid-19 pada Fasilitas Kesehatan dan Non-Kesehatan

d. Panduan Kembali Bekerja setelah Covid-19


Panduan ini ditujukan bagi seluruh anggota PABOI sebagai acuan dalam melakukan pelayanan orthopaedi & traumatologi berkaitan dengan situasi terkini pandemi COVID-19. Panduan ini akan terus diperbarui bila diperlukan sesuai dengan perkembangan dan situasi terkini. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan panduan ini, kami sampaikan terimakasih. Kami berharap panduan ini dapat dimanfaatkan dengan baik.


DR. Edi Mustamsir, dr., Sp.OT(K)

Ketua PABOI


Buku Panduan dapat di download pada link dibawah ini

https://drive.google.com/file/d/1VAUcGNRAi2Y9gjTUptyX1t8AHOxZXDMB/view?usp=sharing

  Aug 23, 2021

See More

Pengaruh Mesenchymal Stem Cell pada Ost...

AKSELERASI APOPTOSIS MELALUI JALUR EKSTRINSIK DENGAN SENSITIVASI SEKROTOM DAN CSF-2 PADA PERIPHERAL BLOOD MONONUCLEARS (PBMCS) TERHADAP MESENCHYMAL STEM SELL OSTEOSARCOMA (OS-MSCS)

 


Osteosarcoma umumnya adalah tumor tulang yang bersifat agresif dan cenderung bermetastasis secara dini dan memiliki beberapa tipe, dimana secara konvensional dibagi berdasarkan tipe sel (osteoblastik, chondroblastic dan fibroblastic). Osteosarcoma merupakan sarkoma primer tulang yang paling banyak terjadi di dunia. Pada beberapa tahun terakhir, pendekatan imunoterapi berbasis sel dan antibodi telah cukup berhasil pada terapi keganasan anak. Salah satu yang menarik perhatian adalah potensi yang dimiliki oleh sel mononuklear darah perifer atau yang dikenal secara internasional dengan Peripheral Blood Mononuclear Cells (PBMCs). PBMCs lebih unggul dibandingkan dengan sumber terapi berbasis sel lainnya. Penelitian ini menjelaskan apoptosis yang dicetuskan oleh PBMCs yang disensitivasi dengan secretome dan GM-CSF pada kokultur dengan stem cell osteosarkoma melalui jalur sitokin.

Gambar 1. Peripheral blood mononuclears Cells yang diaktivasi, A. Pengaktifan PBMCs, B. Stem Cell Osteosarcoma yang digunakan untuk kocultivasi dengan PMBCs. (Foto oleh dr. Fachrizal Arfani P)

PBMCs secara fisiologi mempunyai sifat atau berfungsi sebagai clock mechanisme yang mengatur faktor transkripsi dan translasi di jaringan dan sel imun yang menghasilkan berbagai macam molekul pro dan anti inflamasi, ligand dan sitokin lainnya dari sel imun. PBMCs terdiri dari beberapa sel (limfosit (Th1, Th2, Th17), monosit, natural killer Cell, dendritic cell, makrofag yang mempunyai fenotip dan aktivasi berbeda dalam sistem imun.


Gambar 2. A. PBMCs diaktivasi dengan sekretom (Secretom) yang dikokultivasi dengan stem cell osteosarcoma B. PBMCs yang diaktivasi dengan CSF-2 setelah 6 hari terlihat kerusakan sel stem cell osteosarcoma. (Foto oleh dr. Fachrizal Arfani P)


Hasil dari penelitian ini setelah dilakukan analisis aktifitas biologi sel dengan statistik dapat disimpulkan bahwa secretom dan CSF-2 dapat meningkatkan aktifitas PBMCs walaupun tidak menunjukkan yang signifikan dalam analisis statistik tetapi secara biologis menunjukkan adanya proses kematian sel (Apoptosis). Terjadi peningkatan sekresi TNF-alpha pada PBMCs yang dikultur dengan penambahan Secretom dan CSF-2 bila dibandingkan antara penambahan secretom dan penambahan CFS-2.

Oleh karena itu diperlukan eksplorasi untuk mendapat kelompok molekul berat, molekul besar dan molekul kecil seperti exosome atau ekstravesikel dan molekul metabolite yang aktif, sehingga diperlukan pendekatan secara in vitro. 


Kata kunci : Osteosarkoma, PBMCs, secretome, GM-CSF, OS-MSCs, CFS-2


Penulis

Fachrizal Arfani Prawiragara dr.

29 April 2021




  Aug 13, 2021

See More