News

Selamat Hari Dokter

Selamat Hari Dokter 2021. Semoga apa yang telah diperjuangkan, dikorbankan demi kesembuhan masyarakat akan dibalas dengan pahala yang tak terhingga. hallo teman-teman yuk kita beri semangat untuk para dokter kita, yang sedang berjuang di garda terdepan, dengan tulis ucapan terimakasih dan harapanmu untuk para dokter dan calon dokter di Indonesia 


Selamat hari dokter nasional ? 


#haridokternasional #dokter #idi #orthopaedicsurgeon #indonesianorthopaedic #paboi #ioa #dokterindonesiabersatu #idi #ikatandokterindonesia #dokterspesialis #dokterumum #dokterbedah #dokterspesialistulang #dokterspesialisanak #dokterspesialiskulit #dokterspesialismata #dokterspesialisjantung #dokterspesialisgigi #dokterspesialispenyakitdalam #dokterspesialiskandungan #dokterspesialisbedah #dokterspesialistht #psikologi #psikiater #doktergigi #Indonesiasehat #indonesia #haridokternasional #dokterindonesia

  Oct 24, 2021

See More

Sayangi Tulangmu untuk Masa Depan yang L...

ORTHONEWS

Sayangi Tulangmu untuk Masa Depan yang Lebih Cerah


Hari Osteoporosis Sedunia (World Osteoporosis Day / WOD), telah ditetapkan pada tanggal 20 Oktober setiap tahunnya yang menandai kampanye untuk meningkatkan kesadaran global tentang pencegahan, diagnosis, dan pengobatan osteoporosis. Kampanye tersebut menekankan hubungan langsung antara osteoporosis dan patah tulang, yang dapat memiliki dampak serius dalam mengubah kualitas hidup, baik dalam hal rasa sakit, kecacatan, dan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari - hari. Data terbaru dari IOF (International Osteoporotic Foundation) menyatakan bahwa 1 dari 4 perempuan di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki resiko mengalami osteoporosis. Dan resiko osteoporosis pada perempuan di Indonesia saat ini 4 kali lebih tinggi dibandingkan pada laki - laki. Bahkan osteoporosis saat ini telah menjadi masalah global terutama di Negara - negara berkembang. Data dari WHO pun menyatakan bahwa diseluruh dunia ada sekitar 200 juta orang yang menderita osteoporosis. Nah, Apa sebenarnya osteoporosis itu? Benarkah mitos Penyakit ini hanya menyerang kelompok usia tua saja ? Apa bahayanya penyakit ini, sehingga kita tetap harus waspada dengan gejala nya agar mampu mencegah komplikasi yang disebabkan.

 Seperti yang kita ketahui, osteoporosis lebih sering dikenal sebagai Penyakit Tulang keropos. Disebut sebagai Penyakit tulang keropos karena Osteoporosis adalah Penyakit Tulang yang ditandai dengan menurunnya massa Tulang (kepadatan tulang) secara keseluruhan dan adanya perubahan


Osteoporosis adalah Penyakit Tulang yang ditandai dengan menurunnya massa Tulang (kepadatan tulang) secara keseluruhan

mikroarsitektur jaringan tulang yang menyebabkan menurunnya kekuatan tulang sehingga menyebabkan tulang rentan patah. Tulang yang paling sering cedera adalah tulang panggul, tulang belakang dan tulang pergelangan tangan, walaupun keretakan tulang dapat terjadi pada tulang - tulang lainnya. Tulang mengalami penurunan kepadatan disebabkan karena ketidakseimbangan antara deposisi mineral dan penyerapannya pada jaringan tulang. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal sehingga umumnya osteoporosis dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu osteoporosis primer dan sekunder. Osteoporosis primer merupakan kondisi yang paling sering terjadi dan menyerang kelompok umur usia tua karena disebabkan berkurangnya kemampuan tubuh dalam menjaga keseimbangan metabolisme tulang, sedangkan osteoporosis sekunder bisa menyerang hampir semua kelompok usia karena disebabkan adanya penyakit lain yang mendasari atau penggunaan obat-obatan yang mampu menurunkan kepadatan tulang. Jadi mitos Penyakit tulang keropos atau osteoporosis ini hanya akan menyerang kelompok usia tua adalah kurang tepat.

Lalu apa bahayanya osteoporosis? Bagaimana kita mendeteksi dini penyakit ini? Tidak ada gejala khusus ketika tulang mulai mengalami penurunan kepadatannya namun ketika tulang mulai melemah maka dapat dijumpai beberapa gejala seperti postur tubuh menjadi lebih pendek dan membungkuk, penyusutan gusi, nyeri pada punggung atau pinggul, terjadinya patah tulang lebih mudah dari biasanya atau nama lainnya patah tulang patologis. Bahaya yang ditimbulkan osteoporosis adalah dampak yang diakibatkan dari patah tulangnya itu sendiri yang mengganggu kualitas hidup pasien. Sepertiga dari mereka tidak akan pernah lagi bisa hidup mandiri dan bahkan bisa mengganggu psikologis pasien. Bahkan WHO menyatakan bahwa 50% kejadian patah tulang panggul pada pasien osteoporosis dapat menimbulkan kecacatan seumur hidup dan meningkatkan angka kematian. Osteoporosis bisa terdiagnosis biasanya setelah terjadi keretakan tulang, pemeriksan roentgen pun hanya bisa mengidentifikasi keretakan tulang tapi bukanlah metode untuk menentukan kepadatan tulang. Untuk mengetahui kepadatan tulang bisa kita lakukan pemeriksaan yang disebut BMD (Bone Mineral Density) dengan menggunakan metode DEXA (Dual-Energy X-Ray Absortiometry). Metode ini disarankan untuk memeriksa kepadatan tulang pada Pasien yang beresiko tinggi terkena osteoporosis tentunya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.


Kampanye World Osteoporosis Day yang diselenggarakan tiap tahunnya ini adalah berhubungan terhadap upaya pencegahan dan perubahan perilaku gaya hidup (promotif dan preventif) dalam mengurangi dampak yang disebabkan dari osteoporosis. Untuk mencegah terjadinya osteoporosis ada beberapa langkah mudah yang dapat dilakukan antara lain, mencukupi asupan kalsium harian (1000 mg per hari untuk usia di bawah 50 tahun dan 1200 mg untuk usia diatas 50 tahun), vitamin D (400 IU Sampai 600 IU per hari) dan protein, menghindari merokok dan alkohol. Selain itu aktifitas fisik atau olahraga juga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya osteoporosis karena dengan aktifitas fisik mampu merangsang peningkatan kepadatan tulang (dianjurkan minimal 30 menit setiap harinya).

Untuk kelompok yang rentan terkena osteoporosis, mengurangi resiko jatuh adalah salah satu pencegahan yang sangat dianjurkan. Hal yang bisa dilakukan adalah penggunaan alat bantu untuk berjalan atau menambah pegangan pada beberapa tempat seperti di kamar mandi dan dapur. Mari Sayangi Tulangmu untuk Masa Depan yang lebih Baik!


dr. I Gede Made Oka Rahaditya SpOT

Dokter spesialis orthopaedi RSUD GRATI




  Oct 20, 2021

See More

Sudah Benar kah Posisi duduk anda ? Sepe...

Seperti apa posisi duduk yang ideal untuk terhindar dari sakit punggung - dr. Adam Moeljono, Sp.OT(K)


Dunia selalu mengalami perkembangan yang cepat, mulai dari arus modernisasi dan juga revolusi industry 4.0 yang mengakibatkan gelombang digitalisasi di mana-mana. Dengan proses ini, terjadi peningkatan proses digitalisasi dan ketergantungan kita terhadap perangkat teknologi yang bersifat canggih. Tentu saja hal ini menjadi suatu hal yang sangat membantu kita untuk dapat berinovasi dan memajukan bangsa. Aspek ini juga merambah tidak hanya ke sisi produktif, melainkan juga ke sisi rekreasi. Penggunaan piranti dan gawai canggih seperti komputer, telepon pintar, dan tablet menjadi semakin lazim digunakan. Penggunaan perangkat elektronik canggih ini terutama semakin meningkat dengan berlangsungnya pandemic COVID-19 ini, di mana pertemuan secara daring menjadi semakin lebih sering.

Seperti halnya setiap kondisi dalam kehidupan, setiap hal memiliki berbagai dimensi yang harus sangat diperhatikan. Ketergantungan terhadap piranti dan gawai canggih tersebut menyebabkan perubahan yang besar dalam hidup manusia. Salah satunya adalah peningkatan waktu yang dihabiskan kita untuk menggunakan piranti dan gawai tersebut. Penggunaan dalam jangka waktu yang lama tentu saja dapat membuat kita berada pada postur yang kurang baik.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, coba Anda ingat-ingat, apabila Anda sudah duduk dalam waktu yang lama, terutama jika berada di depan perangkat elektronik, bagaimana posisi duduk yang sering Anda gunakan? Kemungkinan besar Anda akan duduk pada posisi yang khas, yaitu seperti membuat huruf C. Pada posisi ini, punggung Anda akan membungkuk, dengan bahu yang tegang dan posisi leher yang beragam, baik mendongak ke depan atau membungkuk, bergantung apakah Anda sedang menatap layar di atas meja atau menggunakan telepon pintar. Posisi ini bukanlah posisi yang ideal untuk bekerja di depan perangkat elektronik. Posisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari rasa mudah lelah, pegal, bahkan nyeri.

Sekarang kita akan membahas posisi duduk yang baik. Berusahalah untuk duduk dalam posisi yang ergonomis. Apa yang disebut sebagai posisi ergonomis? Posisi ergonomis adalah posisi yang ideal dan nyaman untuk bekerja. Terdapat banyak studi yang telah dipublikasikan mengenai hal ini, saya rangkum secara sederhana sebagai berikut.

Pertama, gunakan kursi yang baik dan cocok untuk Anda. Pilihlah kursi dengan ketinggian yang pas untuk Anda. Pada posisi duduk, seharusnya kedua telapak kaki Anda dapat berpijak di tanah secara bersamaan dengan posisi lutut menghadap ke depan dengan ketinggian yang sama atau sedikit lebih tinggi dari bokong Anda. Alangkah lebih baik jika Anda dapat menggunakan kursi yang memiliki penyandar dengan bentuk menyesuaikan lengkungan punggung Anda.

Kedua, posisikan diri Anda dengan baik pada kursi tersebut. Selama Anda duduk, menopanglah pada kedua sisi bokong Anda, sehingga beban terbagi secara merata antar kedua sisi tubuh Anda. Jangan menaruh objek seperti dompet pada kantung belakang celana Anda, kondisi ini dapat membuat Anda hanya duduk menumpu pada salah satu sisi tubuh Anda. Selanjutnya, tempatkanlah bokong Anda pada pertemuan antara alas duduk dan senderan, dan tempatkanlah sepanjang punggung Anda akan menempel pada senderan tersebut. Posisi ini sangatlah baik karena dapat mengurangi kecenderungan Anda untuk membungkuk selama duduk.

Ketiga, pengaturan benda-benda di sekitarnya. Pada posisi duduk yang ideal pandangan Anda dapat lurus ke depan. Hal ini sangat penting agar leher Anda tidak membungkuk atau maju ke depan. Agar posisi ini dapat tercapai, tempatkan layar Anda sejajar dengan arah pandangan. Selama Anda duduk, bahu sebaiknya pada posisi yang rileks. Caranya adalah dengan menempatkan keyboard sejajar dengan lantai dengan kedua siku Anda menekuk membentuk huruf L.

Keempat, cara yang paling sederhana dan terakhir untuk menjaga postur tersebut adalah dengan membatasi waktu duduk Anda. Anda dapat membuat peringatan di telepon genggam atau jam Anda setiap 30 menit agar Anda bergerak dan melakukan suatu peregangan yang sederhana atau berjalan sebentar. Anda juga dapat menggunakan telepon genggam Anda dalam posisi berdiri dan bahkan dengan posisi jalan di tempat, saya secara pribadi sering melakukan hal ini.

Demikianlah tips yang dapat saya berikan mengenai posisi duduk yang ideal untuk mencegah keluhan sakit punggung. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, atau ingin mengetahui informasi lain seputar bidang orthopaedi, dapat menyimak media sosial dari PABOI di platform Instagram @indonesianorthopaedic_official dan untuk bidang tulang belakang pada akun @pedicleclubindonesia.




  Oct 14, 2021

See More

Mielopati Servikal akibat Kista Endoderm...

Mielopati Servikal akibat Kista Endodermal Tulang Belakang pada Anak Usia Dua Tahun: Sebuah Laporan Kasus

 

Mielopati servikal merupakan suatu kondisi medis yang diakibatkan oleh penekanan tulang belakang leher yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan seperti gangguan fungsi motorik halus, kelemahan dan kesemutan pada anggota gerak tubuh, nyeri dan berkurangnya ruang gerak pada tulang belakang leher, nyeri pada lengan dan bahu, ketidakseimbangan serta gangguan gaya berjalan. Mielopati servikal umum dijumpai pada populasi lansia, mayoritas diakibatkan proses degenerative. Namun pada kasus yang jarang, kondisi ini dapat pula ditemui pada populasi anak-anak. Mielopati servikal pada anak dapat disebabkan oleh adanya tumor atau kista pada tulang belakang leher, salah satunya adalah kista endodermal dengan prevalensi sebesar 0,7 hingga 1,3%. Pada laporan kasus ini, ditemukan adanya pasien anak usia dua tahun dengan mielopati servikal akibat kista endodermal di Rumah Sakit Umum Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Pada pasien dilaporkan keluhan kesulitan menggerakkan leher serta postur tubuh dan gaya berjalan yang tidak normal sejak enam bulan oleh orangtua pasien. Adanya riwayat trauma dan penyakit lainnya pada pasien juga disangkal. Dari pemeriksaan fisik oleh dokter, tidak ditemukan adanya kelainan maupun tanda-tanda adanya riwayat trauma seperti bengkak atau kemerahan. Namun pada pasien ditemukan sisi tubuh kanan pasien lebih lemah dibanding sisi kiri serta adanya refleks patologis pada kedua sisi tubuh. Dari hasil pemeriksaan penunjang menggunakan MRI ditemukan adanya suatu gambaran mengarah ke mielopati servikal akibat tumor pada tulang belakang leher. Pada pasien kemudian dilakukan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan tumor dari tulang belakang leher serta tindakan dekompresi dan laminektomi yang bertujuan untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang leher. Setelah dilakukan pemeriksaan pada jaringan yang dicurigai tumor tersebut teridentifikasi jaringan tersebut sebagai kista endodermal.

Mielopati servikal akibat kista endodermal pada anak merupakan kasus yang jarang ditemukan. Sekali diagnosis ditegakkan, tindakan pembedahan harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada sumsum tulang belakang. Kista endodermal biasanya memiliki sifat jinak dan tidak ganas. Namun keberhasilan tindakan pembedahan sangat bergantung dengan lokasi kista dan derajat keparahan kompresi yang ditimbulkan. Beberapa studi menyebutkan tingkat kesembuha pasca operasi adalah sebesar 40 hingga 70% kasus dan hilangnya gejala secara total disebutkan sebesar 20-30% kasus. Oyemolade dkk melaporkan bahwa tingkat kekambuhan kista endodermal adalah sebesar 37% dengan interval waktu antara operasi dan terjadi kekambuhan antara 4 hingga 14 tahun.

Poin penting yang dapat diambil dari kasus ini adalah peran orang tua sangat dibutuhkan dalam deteksi dini kelainan tubuh pada anak. Anak-anak seringkali belum bisa mengekspresikan rasa sakit atau adanya abnormalitas pada tubuh mereka. Dengan adanya deteksi dini oleh orangtua, dari segi pertumbuhan fisik dan perkembangan anak dapat diketahui adanya abnormalitas lebih awal sehingga tindakan dapat segera diambil oleh dokter dan hasil perbaikan klinis atau tingkat kesembuhan yang maksimal dapat dicapai. Hal penting lainnya adalah, monitoring kondisi pasien pasca operasi penting dilakukan untuk mengevaluasi adanya kegagalan operasi maupun penurunan fungsi saraf jangka panjang.



Kondisi pasien sebelum (kiri) dan sesudah tindakan pembedahan kanan)

Lokasi: RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar




Tindakan pembedahan evakuasi kista dan tindakan dekompresi (A&B), jaringan kista yang berhasil dievakuasi (C)

Lokasi: RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar


  Sep 16, 2021

See More

Reduksi Terbuka Pada Dislokasi Posterior...

Eduksi Terbuka Pada Dislokasi Posterior Siku

 Yang Terbengkalai Pada Anak 


ABSTRAK

Latar Belakang: Dislokasi siku yang terbengkalai didefenisikan sebagai dislokasi yang tidak dilakukan tindakan/reduksi kembali, lebih dari 3 minggu. Reduksi akan semakin sulit pada dislokasi siku yang terbengkalai, disebabkan adanya perlengketan dari jaringan lunak di sekitar siku. Dislokasi siku yang sudah terlalu lama akan mempunyai keterbatasan gerak, biasanya di antara 0o-50o terutama saat fleksi (melipat siku), pasien sulit untuk menggunakan sikunya dalam kehidupan sehari-hari seperti menyisir rambut, mengancingkan baju, makan ataupun menulis.

Artikel ini di buat dengan tujuan untuk mengevaluasi hasil dari tindakan reduksi terbuka dan fiksasi sementara menggunakan k-wire dalam terapi dislokasi siku yang terbengkalai pada anak.


Laporan Kasus: Kami melaporkan 3 kasus anak-anak dengan dislokasi siku yang terbengkalai yang telah menjalani terapi reduksi terbuka dan fiksasi sementara menggunakan k-wire di RSUP Haji Adam Malik dari Januari 2017 – Januari 2019. Rata-rata awal dari fleksi siku adalah 20° dan MEPI 73.3. Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara dilakukan pada semua pasien. MEPI pada ketiga pasien tersebut dinilai 6 bulan kemudian.


Kesimpulan: Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk dislokasi siku yang terbengkalai pada pasien anak-anak memiliki hasil yang meyakinkan dan memuaskan terlepas dari durasi dislokasi dan rentang gerak pra-operasi, asalkan diikuti dengan protokol fisioterapi yang diawasi. Rehabilitasi dilakukan secara rutin segera setelah K-wire dilepas dan dipertahankan selama 6 minggu.

 

Kata kunci: Dislokasi siku terbengkalai; anak-anak; reduksi terbuka; k-wire



LATAR BELAKANG

Dislokasi siku yang terbengkalai didefinisikan sebagai dislokasi yang tidak direduksi selama lebih dari 3 minggu.1 Dislokasi siku posterior akut pada anak umumnya mudah diobati. Namun, reduksi sulit dilakukan terutama karena kontraktur jaringan lunak pada dislokasi siku lama yang tidak tereduksi atau terabaikan. Selain itu, jaringan parut yang terbentuk dan pembentukan tulang baru kemudian dapat mencegah reduksi tertutup. Tergantung pada keadaan, ahli bedah memiliki berbagai pilihan prosedur operasi untuk dipilih, tetapi tidak ada yang sepenuhnya memuaskan. Pilihan ini termasuk reduksi terbuka, artroplasti eksisi, artroplasti interposisi atau penggantian, dan artrodesis.2


Menurut beberapa penulis, manfaat reduksi terbuka hanya terbatas pada dislokasi dengan onset kurang dari tiga bulan, sedangkan menurut beberapa penulis3,4 reduksi terbuka memberikan hasil yang baik pada dislokasi bahkan dalam jangka waktu dua tahun. Dislokasi siku yang terbengkalai membatasi rentang gerak (ROM) terutama fleksi hingga hampir 0-50°; dimana pasien tidak dapat memfungsikan tangan mereka untuk kegiatan sehari-hari yang sederhana (sisir, tombol, makan) atau motorik halus (menulis).5,6,7


Mayo Elbow Performance Index (MEPI)(Tabel 1) digunakan untuk mengevaluasi karakteristik subjektif, objektif, dan fungsional sebelum operasi dan tindak lanjut. Sistem penilaian ini memiliki empat parameter: nyeri, gerak, stabilitas, dan kinerja dari lima aktivitas sehari-hari (sisir, makan, kebersihan diri, memakai baju, dan sepatu). Stabilitas siku dinilai stabil (tidak ada ketidakstabilan valgus / varus yang terlihat), instabilitas sedang (<10° ketidakstabilan valgus / varus), atau instabilitas berat ( ³ 10° ketidakstabilan valgus / varus). Bergantung pada skor, MEPI diklasifikasikan sebagai sangat baik (90-100), baik (75-89), cukup (60-74), dan buruk (<60).

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk menangani dislokasi siku yang terbengkalai pada anak-anak.



Fungsi

Nilai

Definisi (Nilai)

Nyeri

45

Tidak ada (45)

Ringan (30)

Sedang (15)

Berat (0)

Gerak

20

Lingkup > 100o (20)

Lingkup 50o-100o (15)

Lingkup < 50o (5)

Stabilitas

10

Stabil (10)

Instabilitas sedang (5)

Instabilitas berat (0)

Fungsi

25

Menyisir rambut (5)

Makan (5)

Kebersihan diri (5)

Memakai baju (5)

Memakai sepatu (5)

Total

100

Sangat baik > 90; Baik : 75-89; cukup : 60-74; Buruk < 60



LAPORAN KASUS

Kami melaporkan 3 kasus dislokasi siku terbengkalai pada anak-anak yang menjalani reduksi terbuka dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik selama periode Januari 2017-Januari 2019. Usia pasien adalah 9, 13, dan 14 tahun. Mekanisme cidera pada semua kasus yaitu jatuh dengan tangan yang menumpu. Indikasi tindakan pembedahan adalah nyeri dan kaku sendi siku saat ekstensi. Rata-rata fleksi siku awal adalah 25,3° (10°, 26°, 40°). Rata-rata nilai MEPI adalah 73,3 (80, 65, 75).


Deformitas bukanlah masalah utama, namun nyeri saat memulai gerakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari menjadi alasan pasien untuk mencari pertolongan medis. Reduksi terbuka yang dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara dilakukan pada semua pasien. Cast digunakan untuk memberikan stabilitas lebih lanjut.

Rehabilitasi pun rutin dilakukan segera setelah K-wire dilepas dan luka sembuh. Fisioterapi yang diawasi dilakukan dan dipertahankan selama 6 minggu. Tidak ada pasien yang mengalami infeksi pasca-operasi. Tidak ada pasien yang mengalami cidera saraf setelah operasi.




MEPI untuk ketiga pasien dievaluasi setelah 6 bulan. Semua pasien merasa puas karena dapat melakukan rentang gerak fungsional untuk aktivitas sehari-hari (rata-rata MEPI 93,3; sangat baik) (Tabel 2) meskipun deformitas pasien tidak terkoreksi dengan sempurna.




Gambar 1. A. Tampilan klinis pasien ke- 1 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-1; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-1




Gambar 2. A. Tampilan klinis pasien ke- 2 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-2; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-2




Gambar 2. A. Tampilan klinis pasien ke- 3 di poliklinik orthopaedi RSUP HAM ; B. X-Ray AP/ Lateral siku (Elbow Joint) dan CT-Scan 3D pada pasien ke-3; C. X-Ray siku (Elbow joint) setelah operasi pada pasien ke-3






Tabel 2. MEPI pada pasien 1 tahun setelah operasi

 

Fungsi

Nilai MEPI 

Pasien 1

Nyeri (45)

Gerak (20)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

95

Pasien 2

Nyeri (45)

Gerak (20)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

95

Pasien 3

Nyeri (45)

Gerak (15)

Stabilitas (10)

Fungsi (20)

90





PEMBAHASAN

Dislokasi siku terbengkalai umumnya jarang terjadi tetapi masih sering ditemukan di negara berkembang.9 Kebanyakan penulis menyetujui konsensus pengobatan dan merekomendasikan reduksi tertutup untuk dislokasi siku hingga 3 minggu setelah cidera. Setelah lewat dari waktu tersebut, reduksi tertutup dapat menimbulkan bahaya. Kebanyakan penulis menyarankan reduksi terbuka bila dislokasi berlangsung 3 minggu hingga 3 bulan. Penggantian siku total, artroplasti eksisi, dan artrodesis direkomendasikan setelahnya.10 Arthrodesis direkomendasikan untuk pekerja berat, sementara rentang gerak yang baik didapatkan pada kasus yang dilakukan artroplasti. Reduksi terbuka tidak disarankan setelah 3 bulan dislokasi karena takut akan kerusakan tulang rawan. Namun dalam penelitian kami, kami mendapatkan hasil yang memuaskan dengan operasi hingga 6 bulan. Temuan ini konsisten dengan penelitian lain, yang mendapatkan hasil serupa dengan reduksi terbuka hingga 2 tahun.11






Gambar 4. A. Klinis pasien 1,2,3 melakukan flexy dan ekstensi post Operasi 6 Bulan follow up ; B. X-Ray siku AP & Lateral pasien 1,2,3 pada 6 bulan followup


Beberapa penulis merekomendasikan reduksi terbuka dengan hinged external fixation untuk memfasilitasi rehabilitasi awal dan stabilitas yang baik.12,13 Namun dalam penelitian kami, reduksi terbuka dengan fiksasi internal menggunakan K-wires sementara, dikombinasikan dengan protokol rehabilitasi pasca operasi yang diawasi telah mencapai hasil yang sama baiknya. Kami melepas jahitan pada hari ke-14 dan K-wires 2 minggu setelah operasi. Fisioterapi yang diawasi dilakukan segera setelah K-wire dilepas dan lukanya sembuh dan dipertahankan selama 6 minggu.


KESIMPULAN

Reduksi terbuka dikombinasikan dengan fiksasi menggunakan K-wire sementara untuk dislokasi siku terbengkalai pada pasien anak-anak memiliki hasil yang meyakinkan dan memuaskan terlepas dari durasi dislokasi dan rentang gerak pra-operasi, asalkan diikuti dengan protokol fisioterapi yang diawasi.


Penulis

Budi A. M. Siregar*, Iman Dwi Winanto**

*Residen Orthopaedi and Traumatologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan

**Konsultan Orthopaedic and Traumatology, Divisi Pediatri, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan


Medan, 03 Mei 2021


  Sep 01, 2021

See More

Parameter Antropometrik untuk Memprediks...

Parameter Antropometrik untuk Memprediksi Ukuran Hamstring Graft pada Operasi Rekonstruksi Ligamen Krusiatum Anterior

 

 

Meningkatnya jumlah dan jenis kegiatan olahraga disertai juga dengan meningkatnya cedera pada ligamen. Cedera akut pada ligamen meliputi sprain serta robekan, baik sebagian maupun total. Sekitar 30-50% dari cedera ligamen terjadi saat kegiatan olahraga. Cedera ligamen paling sering terjadi di daerah lutut, dan ligamen yang paling sering terdampak adalah ligamen krusiatum anterior atau ACL.

Operasi rekonstruksi saat ini menjadi pilihan utama pada kasus ruptur ligamen krusiatum anterior. Di Amerika Serikat tindakan ini dilakukan sekitar 60.000 hingga 175.000 kali tiap tahunnya. Terdapat beberapa pilihan autologous graft pada operasi rekonstruksi ligamen krusiatum anterior ini, antara lain tendon patella, tendon kuadriseps, tendon hamstring, dan tendon peroneus. Namun dari beberapa pilihan ini, tendon hamstring merupakan yang paling sering digunakan karena tingkat morbiditas pada donor site yang rendah, masalah yang timbul pada sendi patellofemoral minimal, dan gangguan yang timbul pada mekanisme ekstensi sendi lutut juga lebih rendah. Salah satu kerugian dari penggunaan graft dari tendon hamstring adalah ukuran graft yang diperoleh bervariasi dan tidak dapat diprediksi sebelum operasi. Hal ini berbeda dengan graft dari tendon patella yang ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Terdapat beberapa parameter antropometrik yang kami perkirakan dapat dipergunakan untuk memprediksi ukuran graft dari tendon hamstring, yaitu tinggi badan, berat badan, dan body mass index. Kemampuan untuk memprediksi ukuran graft ini penting bagi seorang ahli bedah karena dapat menjadi panduan untuk membuat rencana pre-operatif yang lebih baik dan dapat mengurangi kebutuhan penggunaan allograft.

Dalam penelitian ini, kami melakukan observasi terhadap 20 pasien yang menjalani operasi rekonstruksi ligamen krusiatum anterior menggunakan graft dari tendon hamstring pada bulan Mei 2019 hingga Januari 2020 di RS dr. Saiful Anwar Malang. Kami lakukan pengambilan data antropometrik pasien yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan body mass index. Diameter graft diukur intra-operatif menggunakan seizing tube (Linvatec) dengan kalibrasi 0,5 mm. Dari data-data yang diperoleh dilakukan analisis statistik menggunakan tes korelasi multivarian untuk mengetahui hubungan antara data antropometrik dengan diameter graft. Hasil analisis statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa didapatkan hubungan yang signifikan antara tinggi badan dengan diameter graft hamstring, sedangkan berat badan dan body mass index tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.

Dari hasil penelitian ini kami menyarankan untuk penggunaan tinggi badan untuk memprediksi diameter graft dari tendon hamstring. Hal ini dapat digunakan sebagai panduan dalam membuat rencana pre-operatif, mengurangi kebutuhan penggunaan allograft, mengurangi biaya operasi, serta meningkatkan kualitas hasil rekonstruksi ligamen krusiatum anterior.


dr. Anindita Eka Pramana Wijaya

dr. Krisna Yuarno Phatama, Sp.OT (K)

Malang, 30 April 2021

 

Foto 1

Judul : Tendon hamstring

Lokasi foto : Kamar operasi RS dr. Saiful Anwar Malang

Fotografer : Alifian

Keterangan : Tendon hamstring setelah dibersihkan dari lemak dan otot yang melekat.



Foto 2

Judul : Pengukuran diameter tendon hamstring

Lokasi foto : Kamar operasi RS dr. Saiful Anwar Malang

Fotografer : Alifian

Keterangan : Pengukuran diameter tendon hamstring menggunakan seizing tube (Linvatec) dengan kalibrasi 0,5 mm.

  Aug 31, 2021

See More